Liputan Acara Keagamaan Agama Hindu

Pada hari Jumat, 22 September 2025, ruang agama di lantai 3 Gedung Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan yang sangat penuh makna bagi umat Hindu di sekitarnya. Kegiatan yang dimulai pada pukul 06.30 pagi dan berakhir sekitar pukul 09.00 pagi ini mengundang perhatian umat Hindu yang ingin memperdalam iman dan spiritualitas mereka. Meski Gedung BPS berfungsi sebagai tempat perkantoran, ruang agama yang ada di lantai 3 dirancang dengan sangat baik untuk memberi ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang ingin beribadah. Ruangan ini menyediakan atmosfer yang sangat kondusif untuk kegiatan keagamaan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kantor. Begitu peserta memasuki ruang agama tersebut, suasana yang hening dan damai menyelimuti mereka. Tidak hanya umat Hindu, tetapi juga siapa pun yang hadir merasakan ketenangan yang datang dari kegiatan ibadah ini.

Kehadiran Guru Pak Gusti sebagai pemimpin acara semakin menambah khidmatnya suasana. Pak Gusti adalah seorang guru spiritual yang dihormati di kalangan umat Hindu, dan pengalaman serta kebijaksanaan beliau dalam membimbing umat tidak diragukan lagi. Sebelum acara dimulai, beliau memberikan sambutan singkat yang mengingatkan umat untuk selalu mengingat Tuhan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik melalui pemahaman ajaran agama. Begitu acara dimulai, ruang agama ini dipenuhi dengan semangat ibadah yang sangat mendalam.

Kegiatan beribadah dimulai dengan pelaksanaan Tri Sandhya pada pukul 06.30 pagi. Tri Sandhya merupakan doa pagi yang menjadi bagian dari rutinitas ibadah umat Hindu yang dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore. Ibadah Tri Sandya ini memiliki makna yang sangat dalam, di mana umat Hindu mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan serta memohon perlindungan dan petunjuk-Nya untuk menjalani kehidupan yang penuh kedamaian. Doa ini dilakukan dengan penuh penghayatan, diiringi dengan lantunan mantra-mantra yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan hati. Seluruh peserta, dengan khusyuk dan penuh rasa hormat, mengikuti setiap langkah ibadah ini, mulai dari mantra pembuka hingga penutupan. Kehadiran Guru Pak Gusti yang memimpin doa menambah kedalaman penghayatan ibadah tersebut, seolah-olah membawa setiap peserta lebih dekat dengan Tuhan.

Setelah ibadah Tri Sandya, acara dilanjutkan dengan pembacaan Seloka Bhagawat Gita Bab 3 Ayat 1-20. Bhagawat Gita adalah salah satu kitab suci yang sangat penting dalam agama Hindu, yang berisi ajaran-ajaran Tuhan Krishna kepada Arjuna, salah satu tokoh dalam epik Mahabharata. Dalam bab ini, Krishna menjelaskan pentingnya dharma (kewajiban), karma (perbuatan), dan bhakti (pengabdian) dalam hidup manusia yaitu:

3:1
अर्जुन उवाच:
ज्यायसी चेत् कर्मणः ते मताऽबुद्धिर जनार्दन।
तत् किं कर्मणि घोरे मां नियोजयसि केशव॥
Arjuna bertanya: “Kṛṣṇa, jika Engkau menganggap kebijaksanaan (buddhi) lebih utama daripada tindakan (karma), maka mengapa Engkau menyuruh aku berperang?”

3:2
व्यामिश्रेणेव वाक्येन बुद्धिं मोहयसिव मे।
तदेकं वद निश्चय्य येन श्रेयोऽहमाप्नुयाम्॥
“Ucapan-Mu membuat pikiranku bingung karena mengandung pendapat yang bertentangan. Tolong tunjukkan jalan yang pasti agar aku dapat mencapai kebahagiaan tertinggi (śreya).”

3:3
श्रीभगवान् उवाच:
लोकेऽस्मिन् द्विविधा निष्ठा पुरा प्रोक्ता मयानघ।
ज्ञानयोगेन साङ्ख्यानां कर्मयोगेन योगिनाम्॥
Sri Bhagavan bersabda: “Di dunia ini ada dua jalan utama menuju kesempurnaan: jalan pengetahuan (jñāna yoga) menurut ajaran Sāṅkhya, dan jalan perbuatan tanpa pamrih (karma yoga) bagi para yogi.”

3:4
न कर्मणामनारम्भान नैष्कर्म्यं पुरुषोऽश्नुते।
न च संन्यासेनैव सिद्धिं समधिगच्छति॥
“Seseorang tidak dapat mengatasi hukum karma dengan tidak berbuat apa-apa, dan tidak pula mencapai kesempurnaan dengan hanya meninggalkan tindakan.”

3:5
न हि कश्चित्क्षणमपि जातु तिष्ठत्यकर्मकृत्।
कार्यते ह्यवशः कर्म सर्वः प्रकृतिजैर्गुणैः॥
“Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa melakukan sesuatu. Semua makhluk terus didorong bertindak oleh sifat alamiah dan takdir mereka.”

3:6
कर्मेन्द्रियाणि संयम्य य आस्ते मनसाऽ स्मरन्।
इन्द्रियार्थान्विमूढात्मा मिथ्याचारः स उच्यते॥
“Orang yang mengendalikan indera tetapi pikirannya tetap terganggu oleh keinginan inderawi disebut sebagai orang yang bingung dan munafik.”

3:7
यस त्विन्द्रियाणि मनसा नियम्यारभतेऽर्जुन।
कर्मेन्द्रियैः कर्मयोगमसक्तः स विशिष्यते॥
“Namun, Arjuna, orang yang mengendalikan inderanya dengan kuat dan melakukan pekerjaan tanpa keterikatan pada hasil adalah manusia yang patut dipuji.”

3:8
नियतं कुरु कर्म त्वं कर्म ज्यायो ह्यकर्मणः।
शरीरयात्रापि च ते न प्रसिद्ध्येदकर्मणः॥
“Oleh karena itu, lakukan kewajibanmu karena bekerja lebih baik daripada tidak bekerja. Bahkan untuk mempertahankan tubuh ini, kamu harus melakukan pekerjaan.”

3:9
यज्ञार्थात्कर्मणोऽन्यत्र लोकः कर्मबन्धनः।
तदर्थं कर्म कौन्तेय मुक्तसङ्गः समाचर॥
“Manusia terikat oleh karma kecuali jika bertindak dengan semangat pengorbanan (yajña). Oleh karena itu, Arjuna, lakukan kewajibanmu dengan bebas dari keterikatan dan sebagai persembahan.”

3:10
सहयज्ञाः प्रजाः सृष्ट्वा पुरोवाच प्रजापतिः।
अनेन प्रसविष्यध्वमेष वोऽस्त्विष्टकামधुक्॥
“Prajapati Brahma menciptakan manusia bersama-sama dengan pengorbanan dan berpesan agar mereka hidup dalam semangat pengorbanan untuk meraih segala keinginan.”

3:11
देवान्भावयतानेन ते देवाः भावयन्तु वः।
परस्परं भावयन्तः श्रेयः परमा वाप्त्यथ॥
“Berikan pengorbanan kepada para dewa agar mereka juga membalasnya dengan semangat yang sama. Dengan saling mendukung tanpa pamrih, kalian akan mencapai kebaikan tertinggi.”

3:12
इष्टान्भोगान्हि वो देवा दास्यन्त यज्ञभाविताः।
तैरदत्तानप्रदायैर्भुञ्जते स्तेन एव सः॥
“Para dewa memberikan kenikmatan kepada mereka yang berkorban dengan penuh semangat. Namun mereka yang menikmati tanpa memberi balasan adalah pencuri sejati.”

3:13
यज्ञशिष्टाशिनः सन्तो मुच्यन्ते सर्वकिल्बिषैः।
भुञ्जते ते त्वघं पापा ये पचन्त्यात्मकारणात्॥
“Mereka yang memakan hasil dari persembahan yang suci terbebas dari semua dosa, sedangkan mereka yang hanya memasak untuk diri sendiri menanggung akibat dosa mereka.”

3:14
अन्नाद्भवन्ति भूतानि पर्जन्यादन्नसंभवः।
यज्ञाद्भवति पर्जन्यो यज्ञः कर्मसमुद्भवः॥
“Makhluk hidup bertumbuh karena makanan; makanan berasal dari hujan; hujan berasal dari persembahan (yajña); dan yajña adalah buah dari tindakan (karma).”

3:15
कर्म ब्रह्मोद्भवṁ विद्धि ब्रह्माक्षरसमुद्भवम्।
तस्मात्सर्वगतं ब्रह्म नित्यं यज्ञे प्रतिष्ठितम्॥
“Ketahuilah bahwa karma yang sesuai dengan hukum alam berasal dari Brahman yang abadi. Karena itu Brahman hadir dalam yajña yang dilakukan dengan kesadaran penuh.”

3:16
एवं प्रवर्तितं चक्रम् नानुवर्तयतीह यः।
अघायुरिन्द्रियारामो मघं पार्थ स जीवति॥
“Demikianlah roda kehidupan terus berputar dengan adanya saling dukung antara makhluk hidup. Mereka yang hanya mengikuti nafsu indera hidup sia-sia.”

3:17
यस्मात्मरतिरिव स्यादात्मतृप्तश्च मानवः।
आत्मन्येव च सन्तुष्टस्तस्य कार्यं न विद्यते॥
“Namun orang yang berbahagia karena dirinya sendiri dan puas dengan diri, tidak lagi memiliki kewajiban duniawi.”

3:18
नैव तस्य कृतनार्थो न कृतनेह कश्चन।
न चास्य सर्वभूतेषु कश्चिदर्थव्यपाश्रयः॥
“Orang seperti itu tidak bergantung pada hasil pekerjaan dan tidak mendapat untung atau rugi dari apapun di dunia.”

3:19
तस्मादसक्तः सततं कार्यं कर्म समाचर।
असक्तो ह्याचरन् कर्म परमाप्नोति पुरुषः॥
“Oleh karena itu, lakukan kewajibanmu tanpa keterikatan. Dengan bertindak tanpa keterikatan, seseorang mencapai kesempurnaan tertinggi.”

3:20
कर्मणाैव हि ससिद्धिमास्थिता जनकादयः।
लोकसंग्रहमेवापि संपश्यन् कर्तुमर्हसि॥
“Para bijak seperti Raja Janaka mencapai kesempurnaan melalui kerja tanpa keterikatan. Oleh karena itu, kamu juga harus bertindak demi kesejahteraan dunia.”

3:21
यद्यात्करोति श्रेष्ठस्तत्क एवेतरो जनः।
स यत्प्रमाणं कुरुते लोकस्तदनुवर्तते॥
“Apa pun yang dilakukan orang-orang terkemuka menjadi contoh bagi orang lain, dan dunia mengikutinya.”

3:22
न मे पार्थास्ति कर्तव्यं त्रिषु लोकेषु किञ्चन।
नावाप्तमवाप्तव्यं वर्त एव च कर्मणि॥
“Arjuna, di tiga dunia ini tidak ada tugas bagi-Ku, tidak ada yang harus diperoleh atau belum diperoleh, namun Aku tetap bekerja.”

3:23
यदि ह्यहमन्यः सर्वे मनुष्याः पार्थ सर्वशः।
मम वर्त्मानुवर्तन्ते न कर्मणि तु ताण्डवम्॥
“Jika Aku tidak bekerja, maka dunia akan hancur karena manusia mengikuti contoh-Ku dalam segala hal.”

3:24
उत्सीदेरिमे लोकाः न कुर्यां कर्म यदि अहम्।
सङ्करस्य च कर्ता स्यामग्नेयं इमाः प्रजाः॥
“Jika Aku berhenti bekerja, maka dunia akan binasa, dan Aku menjadi penyebab kekacauan dan kehancuran umat manusia.”

3:25
सक्ताः कर्मणि अविद्वांसो यथा चुरवन्ति भारत।
कुर्याद्विद्वांस्तथा असक्तश्चिकीर्षुरलोकसंग्रहम्॥
“O Arjuna, sama seperti orang bodoh bertindak karena keterikatan, orang bijak harus bertindak tanpa keterikatan demi kesejahteraan dunia.”

3:26
न बुद्धिभेदं जनयेत् अज्झज्ञानां कर्मसङ्गिनाम्।
जोशयेत्सर्वकर्माणि विद्वान्युक्तः समाचरन्॥
“Orang bijak yang berpengetahuan tidak menimbulkan keraguan di hati orang yang terikat oleh tindakan, dan mengilhami mereka untuk bertindak dengan benar.”

3:27
प्रकृतेर्गुणसम्भूतानि कर्माणि सर्वशः प्रकृतिः।
अहंकारविमूढात्मा कर्ताहमिति मन्यते॥
“Semua tindakan berasal dari sifat alamiah (prakṛti). Namun, jiwa yang bingung oleh ego merasa ‘Aku adalah pelaku.’”

3:28
तत्त्वविद् तु महाबाहो गुणकर्मविभागयः।
गुणा गुणेषु वर्तन्त इति मत्वा न सज्जते॥
“Orang bijak yang mengetahui hakikat membedakan sifat dan tindakan yang dihasilkan sifat, dan tidak bingung antara keduanya.”

3:29
प्रकृतर्गुणसम्मूढाश्च गुणकर्मविभागयः।
तानकृत्स्नविदो मंदान्कृत्स्नविन न विचालयेत्॥
“Namun, orang yang bingung antara sifat dan tindakan yang muncul darinya tidak bisa melepaskan kebingungan, baik yang sedikit maupun banyak pengetahuannya.”

3:30
मयि सर्वाणि कर्माणि संन्यस्यात्मचेतसा।
निराशीरनिर्ममो भूत्वा युद्धस्व विगतज्वरः॥
“Berikan semua tindakan-Mu kepada-Ku dengan pikiran yang terpusat pada-Ku, tanpa keinginan dan tanpa keterikatan, dan bertarunglah tanpa kegelisahan.”

Pembacaan Seloka Bhagawat Gita ini dilakukan dengan penuh rasa hormat, diikuti dengan penjelasan mendalam dari Pak Gusti mengenai makna ayat-ayat yang dibacakan. Pak Gusti menjelaskan bahwa dalam bab ini, Krishna memberikan petunjuk kepada Arjuna mengenai pentingnya menjalani hidup sesuai dengan kewajiban tanpa terikat pada hasil dari perbuatan tersebut. Hal ini mengajarkan umat Hindu untuk berbuat baik tanpa berharap imbalan, namun tetap menjalankan dharma mereka dengan sebaik-baiknya.

Selama pembacaan, Pak Gusti juga menekankan bahwa setiap tindakan yang dilakukan dengan niat baik dan penuh kesadaran akan membawa kebahagiaan dan kedamaian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ajaran ini tidak hanya relevan dalam konteks spiritual, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Setiap peserta yang hadir mendengarkan penjelasan ini dengan seksama, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulut Pak Gusti membawa pencerahan yang mendalam dalam hati mereka. Mereka tidak hanya mendengarkan ajaran agama, tetapi juga diajak untuk merefleksikan bagaimana ajaran tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan mereka, baik dalam berinteraksi dengan orang lain, menjalani pekerjaan, ataupun menghadapi masalah dan tantangan hidup.

Setelah pembacaan dan penjelasan Bhagawat Gita selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang penuh interaksi. Peserta yang hadir, seperti Arsya, Natta, Tara, Mirah, dan Aira, mengajukan berbagai pertanyaan mengenai bagaimana cara menghadapi tantangan hidup dengan prinsip karma dan dharma, serta bagaimana menjaga kedamaian dalam kehidupan yang sering kali penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran. Pak Gusti menjawab setiap pertanyaan dengan penuh kebijaksanaan dan kesabaran, memberikan penjelasan yang mudah dipahami namun sangat mendalam. Beliau mengingatkan peserta untuk tidak terikat pada hasil, tetapi lebih fokus pada kualitas dari perbuatan yang mereka lakukan. Hasil dari perbuatan adalah kehendak Tuhan, sementara yang terpenting adalah niat dan usaha yang kita lakukan dengan tulus.

Salah satu momen yang sangat berkesan dalam sesi tanya jawab adalah ketika Pak Gusti menyampaikan bahwa dalam hidup ini, kita sering kali dihadapkan pada pilihan yang sulit, namun selama kita menjalankan kewajiban kita dengan penuh tanggung jawab dan berusaha untuk tidak merugikan orang lain, kita sudah menjalani dharma kita dengan baik. Ia juga menekankan pentingnya untuk selalu bersikap damai dalam menghadapi setiap konflik, baik dalam hubungan pribadi maupun sosial. Hal ini sangat relevan dalam konteks kehidupan saat ini, di mana banyak orang terjebak dalam persaingan, egoisme, dan perasaan tidak puas dengan apa yang telah mereka capai. Peserta yang hadir mendengarkan dengan penuh perhatian, meresapi setiap kata-kata yang keluar dari Pak Gusti.

Di tengah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sedang dirayakan oleh umat Islam di lingkungan sekitar, kegiatan ibadah umat Hindu ini juga menjadi bentuk penguatan spiritualitas mereka. Pak Gusti menjelaskan bahwa setiap agama memiliki cara dan jalan masing-masing untuk mencapai kedamaian batin dan hubungan dengan Tuhan. Meskipun umat Islam merayakan Maulid Nabi, umat Hindu di Gedung BPS tetap memanfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam ajaran agama mereka, tanpa merasa terpinggirkan. Hal ini menunjukkan semangat kerukunan antar umat beragama, yang saling menghormati dan menghargai perayaan serta tradisi agama masing-masing.

Selain itu, keikutsertaan generasi muda seperti Arsya, Natta, Tara, Mirah, dan Aira dalam kegiatan ini memberikan harapan baru bagi kelangsungan ajaran agama Hindu di masa depan. Mereka hadir bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk memahami lebih dalam ajaran agama mereka. Generasi muda ini menunjukkan bahwa agama Hindu tetap dihargai dan dipelajari, serta memiliki relevansi dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran mereka menjadi tanda bahwa ajaran-ajaran Hindu masih hidup dalam diri mereka, dan mereka akan terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai spiritual tersebut di masa depan.

Pak Gusti menutup kegiatan ini dengan pesan yang sangat dalam. Ia mengingatkan peserta untuk menjalani hidup dengan ketulusan, kesabaran, dan pengabdian, tanpa terikat pada hasil yang bersifat materi. Baginya, hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan ujian, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani perjalanan itu dengan penuh kasih sayang, pengertian, dan rasa syukur. Melalui ibadah dan pemahaman spiritual yang benar, umat Hindu dapat mencapai kedamaian batin yang sejati, serta menjalani hidup dengan penuh makna.

Kegiatan ini di ruang agama Gedung BPS berhasil menunjukkan betapa pentingnya keberagaman dalam kehidupan beragama di Indonesia. Meskipun umat Islam sedang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, umat Hindu tidak merasa terpinggirkan dan tetap melaksanakan ibadah dengan penuh khidmat. Mereka saling mendukung satu sama lain dan menunjukkan bahwa meskipun berbeda agama, umat manusia tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu hidup damai dan harmonis. Keberagaman agama di Indonesia adalah kekayaan yang harus dijaga dengan penuh rasa saling menghargai, dan kegiatan ini merupakan contoh nyata dari nilai-nilai toleransi dan kerukunan yang seharusnya terus diperkuat dalam kehidupan sehari-hari.

Puja tri sandyah


Sloka bab 3




Komentar

  1. Wah, ajaran agama Hindu keren juga ya

    BalasHapus
  2. Wah, artikelnya sangat mendalam dan penuh makna. Penjelasan tentang kegiatan ibadah di ruang agama Gedung BPS terasa hidup dan membawa pembaca seolah ikut merasakan suasana damai di sana. Uraian mengenai Tri Sandhya dan pembacaan Bhagawat Gita disampaikan dengan jelas sekaligus memberikan wawasan spiritual yang kaya. Bagian tentang sesi tanya jawab juga menarik karena menunjukkan bahwa ajaran agama tidak hanya sekadar teori, tetapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Yang membuat artikel ini semakin bernilai adalah penekanan pada kerukunan antarumat beragama. Kehadiran kegiatan Hindu di tengah perayaan Maulid Nabi menunjukkan harmoni yang indah di Indonesia. Selain itu, keterlibatan generasi muda juga menjadi poin penting yang memberi optimisme akan keberlangsungan nilai-nilai spiritual di masa depan.

    Secara keseluruhan, tulisan ini bukan hanya informatif, tetapi juga inspiratif. Membacanya membuat saya merasa lebih memahami arti toleransi, spiritualitas, dan pentingnya menjalani hidup dengan ketulusan hati.

    BalasHapus
  3. Waduh sangat bagus menurut saya Must Read

    BalasHapus
  4. Sangat seru dan menarik melihat kegiatan agama lain

    BalasHapus
  5. Bagus cara penulisannya dan jadi menambah ilmu. Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar